Suatu Kali saya bertanya pada banyak orang dalm Fb pertanyaan saya adalah:

Tidak bolehkah kita yang menyemai,menanam dan memelihara giliran menentukan hasil ini baik dan tidak, ini lolos standart atau tidak adalah pedagang? atau salah kah hal ini terjadi?(.pedagangnya beli lo jangan lupa?) maka inilah jawabannya

Itu isu utama dalam pengembangan ekonomi mas Sujarwa Wsi. banyak komoditas yang mendapatkan added value terbesar, ketika dilakukan analisis rantai nilai (value chain) itu adalah di tengah yang terdiri dari para pedagang termasuk distributor, agen, grosir, pengecer. Pola gemuk di tengah ini digunakan jaringan ritel besar untuk mengakumulasi yang dikenal sbg teknik walmart, saksikan para ritel besar menekan para produser dari sisi harga dan pelbagai alasan untuk menekan produser/produsen.

gagasan fairtrade yang digulirkan bersama kembalinya penggunaan dinar dan dirham adalah bagaimana produsen yang menentukan nilai dari komoditasnya dan langsung berhubungan dengan produsen lain (untuk industri pengolahan misalnya) atau konsumen akhir.

dalam bahasan ekonomi merkantilis, sebuah istilah peyoratif yang dikaburkan, dari gagasan besar pasar tradisional di mana para pedagang adalah produsen atau terkait langsung dengan gilda gilda produksi yang secara saling ridho (an-tarodhin) mendorong pasar terbuka yang adil bagi semua.

Setidaknya untuk Indonesia bencana BPPC tidak boleh terulang, tapi bencana baru memang sedang berlangsung, yaitu peritel raksasa yang merangsek sampe desa-desa, merekalah yang sering menentukan kualitas dan pada akhirnya harga dari suatu komoditas, utamanya komoditas inti/utama dari rumah tangga.

Memperingati 40 Tahun Ekonom Indonesia salah berpihak!

Apa yang wajib dikuasai oleh seorang Ekonom agar dia ndak salah berpihak? Setelah saya merantau dan bernafas dalam ilmu ekonomi yang bermahzab Sosial atau Ekonomi Pasar Sosial atau Ekonomi Negara Berkesejahteraan ternyata ada banyak hal yang harus dipahami oleh seorang Ekonom…

Penguasaan tools kuantitatif yang mutlak. Paling tidak ada 4 tools yang harus dikuasainya:
1. Ekonometri
2. Analisa input dan output
3. Business dynamic
4. Riset Operasi

Selain itu ini yang lebih penting penguasaan ilmu-ilmu sosial lain selain ekonomi seperti Sosiologi, Kebijakan Publik, Teori Perilaku Organisasi, dll yang membuat cacat genetik ilmu Ekonomi (pijakan centarisparibus sebagai dasar analisanya) dapat direduksi.

Sayangnya banyak ekonom merasa bahwa ilmu ekonomi itu adalah Ratunya Ilmu Sosial dan paling banter mereka menggunakan Ekonometri (cara gampangnya matematika dengan pakai analisa regresi) sebagai dasar analisanya. Sebuah klaim yang tidak cuma keliru tapi merupakan bentuk ketersesatan berpikir. Akibatnya, output dari ilmu ekonomi saat dieksekusi menjadi kebijakan sering kali salah berpihak: dia tidak mensejahterakan masyarakat banyak, dia cuma membuat para greedy pemilik modal semakin mendapatkan peluang untuk memperkaya dirinya…

40 tahun sejak jaman ORBA kita dipimpin oleh para ekonom yang berpikir seperti ini. 40 tahun juga mereka gagal mensejahterakan kita semua. Sayangnya sampai hari ini TIDAK ada yang berani memberikan pemikiran ekonomi alternatif…

Tentu yang berani memberikan pemikiran ekonomi alternatif adalah mereka yang punya ilmu tentang itu.dan teman teman yang sedang belajar politik praktis yang sekarang tengah dekat dengan lingkaran kekuasaan. EKsekutif maupun legislatif

Merekalah yang harusnya menelorkan ide membuat sebuah titik pusaran agar di ikuti oleh banyak orang dan lambat laun akan menjadi bola salju yang siap menendang siapapun yang tidak berprilaku adil dalam ekonomi maupun dalam kebijakannya
saya pribadi juga sangat kuatir dengan maraknya ritel besar indo maret alfa dll terus menggempur pedesaan.

sayangnya para Bupati dan wali kota tidak ada yang tannggap terhadap permasalahan ini bahkan cenderung tutup mata untuk permasalahn ini. dengan alasan nambah peluang kerja bagi masyarakat tapi berapa banyak masyarakat pedagang kecil spt saya yang di rugikan oleh keberadaanya.

kadang dalam kesendirian, saya sempat berpikir kemana LSM_LSM yang omongannya besar itu pergi? kenapa tidak ada satupun yang mengurus tentang Harimau ekonomi (Pedagang Ritel besar) yang setiap saat membunuh pedagang ritel kecil.
Mungkinkah teman teman yang harus terjun jadi LSM dan membantu pedagang pedagang kecil model saya ini ya?

Iklan

Satu respons untuk “

  1. Mas KHalis Tantowi Talk : tetapi saya tidak sebegitu “marahnya” sama peritel (Segala golongan), krn peran mereka dalam pengembangan ekonomi juga besar
    perlunya penerapan zone-sasi dan dukungan ke produsen lokal, penguatan rantai dan sistem distribusi (supply chain) yg bagus ke pemain lokal, dst..

    Jawaban Sujarwa WSi :saya berusaha menggunakan bahasa empati bukan kemarahan .
    saya tidak mengkafiri peranya (peritel besar)dalam ekonomi . Namun penataan lokasi dan penempatan usaha yang mereka lakukan itu yang nanti jika masyarakat kita udah sadar justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri( peritel besar) itu yang saya maksud dengan empati.
    saya mau bertanya barangkali ada yang punya data . dari sekian ratus ribu bahkan juta dari Peritel Indo mart/alfa Mart. Berapa yang memiliki izin?
    dari sekian yang memiliki izin operasional berapa yang melanggar aturan dari izin itu dan dari yang melanggar peraturan itu berapa yang merugikan masyarakat pedagang kecil toko kelontong , pracangan dll.

    Dulu para peritel besar itu berdalih bahwa ada beberapa Item dagangan yang peritel besar tidak menyedia kan contoh minyak tanah. Nah setelah ada konversi mnyak tanahke elpg apa yang ndak di jual peritel besar dari sekian jenis dagangan mbok jem yu tiyem atau mbok jah semua sekarang di sediakan di super maket.bahkan untuk buah buahan jika mereka di dalam outlet tidak laku mereka jual ngeber di pinggir jalan seperti layaknya pedagang K5 yang nggak punya tempat
    Mampukah mereka( MBOK Jem, Yu Tiyem,atau mbok Jah) bersaing dengan gajah spt itu ( Baca:modal Besar)

    Maka sekali lagi empati dan Care pembuat kebijakan ,pembuat peraturan dll, advokasi oleh yang memiliki kemampuan dalam hal ini sangat sangat di harapkan.

    sebab saya melihat dan mersakan sebagai pedagang bahwa walikota , bupati atau legislatif sekalipun kebijakan yang di terapkan lebih pada bijak sini ketimbang bijaksana. sini nya lebih pada peritel besar . wallohu’alm bishowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s